Rabu, 03 Desember 2014

Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah

Berbagai macam buah-buahan yg tumbuh dari pohonnya, baik dari akar maupun dari bunganya, berbagai macam bentuk, bermacam jenis, warna dan aneka rasa. Itulah nikmat Allah, yg kita sering lupa, bahwa Allah-lah penciptanya, kita sekedar melakukan syariatnya dgn menanam dan menuai hasil.
Bagaimana bisa dari tanah dan bercampur air menjadi Buàh atau biji-bijian yg kamu makan dan lihat itu?

Bagaimana mungkin itu terjadi?
Tidak logis namun semua itu mudah bg Allah.


Jika buah-buahan belum mengetuk hati kita untuk tunduk, takjub dan menambah keyakinan kita kepada Allah Subhanawata'ala, maka hati kita belum bisa melihat, masih buta dan masih cendrung keduniaan saja. Jauh dan semakin jauuh....

Yaasiin : 33
  وَآيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

Al-An'aam : 99
وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. 


Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman...

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” 
(QS. Al-hadid : 16)

Saudaraku yang dirahmati Allah....
Maha Suci Allah yang mepergilirkan malam dengan siang.
Hari berlalu membentuk minggu, berlanjut kehitungan bulan dan hitungan bulan pun membentuk tahun. Tanpa kita rasakan pintu ajalpun kian mendekat.
Sementara, peluang hidup tak mungkin kan berulang.
SIAP atau TIDAK, waktu pasti akan meninggalkan kita
Sejauh apa pun satu tahun ke depan sesungguhnya masih lebih dekat daripada satu detik yang telah berlalu. Karena waktu kita yang telah berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa kita manfaatkan lagi.
Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki.

Pagi ini adalah pagi ini, ia tidak akan pernah kembali jika telah tiba waktu siang.
Kalau kesempatan hari ini terlewatkan, hilang sudah momentum yang bisa kita raih. Karena, tidak ada jaminan bagi kita akan berjumpa dengan esok hari.
Jika kita menganggap remeh sebuah ruang waktu,
Maka sesungguhnya kita sedang membuang sebuah kesempatan.
kesempatan tidak akan pernah kembali.
Ia akan pergi bersama berlalunya waktu.
SIAP atau TIDAK, jatah waktu kita terus berkurang

Ketika kita sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya kita sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Usia kita sudah berkurang satu tahun. Dengan kata lain hari kematian kita mendekat satu tahun.
Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit.
Begitu kita menyadari, yang tinggal hanyalah PENYESALAN.

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)

Tak banyak diantara kita yang sadar, BEGITU BANYAK PELUANG TERBUANG
Kadang, kita menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisi, dan melakukan hal-hal yang sia-sia. Bahkan ada yang bisa berjam-jam sibuk dengan video game, FB dll. Sedikit pun tak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.

Sadarkah kita berapa banyak peluang yang telah terbuang.
Berapa banyak waktu berlalu tanpa bernilai sama sekali.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)

Tak seorangpun dari kita yang tahu, KAPAN WAKTU KITA AKAN BERAKHIR.
Sudah saatnya bagi kita untuk memaknai waktu.
Biarlah orang mengatakan WAKTU ADALAH UANG.
namun bagi kita, “WAKTU ADALAH IBADAH!”.
Sedang apapun kita jadikanlah setiap waktu yang kita lalui untuk beribadah semata-mata berharap ridho Allah.

Selamat siang saudaraku...
selamat beraktifitas yg bernilai ibadah

Rabu, 21 Mei 2014

Masuk Islam secara Kaffah

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (Al Baqarah:208)

saudaraku...
Perintah untuk masuk Islam secara kaffah atau keseluruhan memasuki Islam yakni dengan sungguh-sungguh menjadi pribadi yang senantiasa melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah harga mati bagi orang-orang yang telah berserah diri kepada Allah. Nabi Muhammad SAW mengatakan pada haji akbar didalam hadist muttawatir bahwa: "hai umatku, berpegang teguhlan kamu sekalian kepada Al qur'an dan As Sunnah". Maka tidak ada jalan lain, kecuali menjadikan Al Qur'an dan Sunnahnya sebagai petunjuk dalam kehidupan fana ini.



"Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al Maidah:16)

Kesungguhan didalam beragama akan tampak dari ucapan dan perbuatan seseorang yang mengikuti petunjuk Al Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad. Walaupun terkadang ucapan dan perbuatan seseorang juga bisa menipu orang yang melihat dan mendengarnya. Oleh karenanya Allah lebih mengetahui mereka yang berserah diri karena Allah mengetahui segala isi hati manusia. Dia, Ya Zahiir Ya Bhatiin...Islam bukanlah Simbol semata, Islam bukanlah acara seremonial yang dibesar-besarkan, Islam bukanlah kepentingan dan hawa nafsu dari segolongan orang yang berkepentingan. Islam adalah keselamatan.

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong." (Al Hajj:78)

Yang terpenting bagi kita adalah, menjadikan diri sendiri dan keluarga untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sudah sejauh mana kita beriman, Apakah kita benar-benar beriman atau hanya ikut-ikutan beriman dan ragu-ragu?, sudah sejauh mana kita bersungguh-sungguh dalam beragama, Apakah benar kita sudah yakin akan Allah atau hanya sekedar-sekedar saja?, Apakah kita sudah masuk Islam secara kaffah? atau... hanya mewarisi islam dari orang tua dan nenek moyang yang telah terlebih dahulu memeluk agama Islam.

Beragama bukanlah suatu perbuatan dan tindakan yang main-main. Perintah untuk bertakwa kepada Allah telah diterima Nabi Muhammad Saw sejak 1400 tahun lebih yang lalu dari dahulupun di kitab-kitab sebelumnya juga memuat perintah yang sama, hingga kini perintah itupun tetap berlaku sampai kehidupan ini berakhir. 



"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." 
 (Ali Imran:102)

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu." 
(Al Maa"idah:68)

"Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main," 
(Al Anbiyaa':2)

"Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan." 
(Adh Dukhan:7-9)

"Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka." (Az Zukhruf:83)

Semoga kita dapat mengintropeksi diri, dengan mendalami ayat-ayat Allah, membacanya, mentaddaburnya, memahaminya dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Janganlah Islam hanya dijadikan MERK semata, sudah Islam maka sudah selesai urusan. Bukan seperti itu yang diinginkan Tuhan Semesta Alam. Maka dari itu, bersegeralah untuk memohon ampun kepada Allah dan menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dan Sunnah sebagai tata cara syariat beribadah kepada-Nya.

Kita semua tidak lain adalah orang yang akan kembali kepada-Nya,
Semoga bermanfaat, Maha benar Allah dengan Segala Firman-Nya.

Sabtu, 08 Maret 2014

Bilangan dan Membagi-bagi Ayat Allah

Dalam kehidupan ini, terkadang kita menemukan bilangan-bilangan yang diasumsikan sebagai pertanda atau petunjuk yang tidak lain adalah sebuah terkaan terhadap hal yang ghaib. Padahal bilangan-bilangan yang hadir dalam kehidupan merupakan sebuah batu ujian bagi kita agar berserah diri kepada Allah robbilalamiin. Agar kembali total kepada Allah dengan tiidak terjebak didalam pendapat dan pertanyaan yang bias sehingga dapat menjerumuskan kita ke hal yang bersifat syirik. Adalah sebuah praduga saja bahwa kita mendefinisikan bilangan-bilangan tersebut sebagai suatu pertanda dari Tuhan Seru Sekalian Alam.

- Apa maksud Allah dengan angka ....
- Apa maksud Allah dengan bilangan ....
- Kenapa Allah jadikan langit tujuh lapis....
dsb....

Tidak saja terhadap bilangan yang hadir didalam kehidupan kita masing-masing, namun juga sering kali dengan mengasumsikan bilangan-bilangan didalam Al Qur'an sebagai terkaan barang yang ghaib. Kemudian, membagi-bagi Surah dan ayat-ayat Allah didalam Al Qur'an. Membagi untuk tujuan sesuatu selain Allah, membagi Surah maupun ayat Al Qur'an yang tidak lain adalah perkataan Allah, untuk mengejar sesuatu yang tidak ada hujjah terhadap itu. Hal seperti ini tidak lain adalah sebuah praduga dan prasangka dan tidak berarti apa-apa justru dilarang oleh Allah Subhanawata'alla. Seperti :

- Kenapa Surah ..... di Surah ke ....
- Kenapa Ayat .... di angka atau bilangan ....
- Surah .... untuk mengusir Syaitan
- Surah .... atau ayat .... jika dibaca ..... kali akan mendapat pahala atau .....
dsb...

yang pada akhirnya akan menjerumuskan kita terhadap hal yang tidak perlu. Jelas sekali pelajaran yang Allah berikan di Surah Muddatstsir dan Al Kahfi untuk kita renungkan bahwa bilangan adalah sebagai cobaan bagi kita apakah kita menginginkan bilangan itu sebagai terkaan atau menginginkan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Robbilalamiin dengan memurnikan keta'atan hanya kepada-Nya. .

Di ayat Al Muddatstsir ayat 27 sampai dengan 30 jelas sekali bahwa Allah menjadikan cobaan dengan bilangan "sembilan belas". Bukan yang terpenting bilangannya itu, tetapi keyakinan kita terhadap firman Allah dan ilmu itu menambah keimanan kita sehingga kita senantiasa memperbaiki diri. 


Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu?
Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.
(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.
Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. 
(Al Qur'an: Al Muddatstsir:27-30)
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (Al Qur'an: Al Kahfi:22)

dan...Keras sekali peringatan Allah Tuhan Seru Sekalian Alam terhadap orang-orang yang membagi-bagi Al Qur'an. Padahal ayat-ayat Allah didalam Al Qur'an itu komperhensif yakni saling mendukung satu sama lainnya sehingga menjadi petunjuk dan dapat menjelaskan segala sesuatu. Janganlah mengambil atau mencomot ayat-ayat Allah untuk kepentingan nafsu dan dunia. Sangat keras peringatan bagi orang-orang yang membagi-bagi Al Qur'an itu. 

 Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah),
(Al Qur'an:Al Hijr:90)

(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi. (Al Qur'an:Al Hijr:91)

 Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,
 (Al Qur'an:Al Hijr:92)

tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.  (Al Qur'an:Al Hijr:93)

Semoga kita mendapatkan pelajaran dari Al Qur'an, bahwa firman dan perkataan Allah Yang Maha Kuasa bukanlah hal yang remeh temeh, dan bukan hal yang rendahan yang tidak berarti sama sekali sehingga kita mendahulukan perkataan. petunjuk, prinsip orang lain atau diri sendiri dibandingkan mendahulukan dan mengimani perkataan-Nya. Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah petunjuk ke jalan yang lurus. Cahaya yang mengeluarkan seseorang dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. 

dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.
(Al Qur'an: Al Haaqah:41-42)

 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qur'an;Al Qamar:17,22,32,40)

Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman?
(Al Qur'an: Al Mursalaat:50)


Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya.

Senin, 10 Februari 2014

Syaitan itu Bukan Sifat !


Saudaraku seiman...
Syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia oleh karena keingkarannya kepada Sang Khalik dan sumpahnya ingin menyesatkan seluruh umat manusia di muka bumi ini. Syaitan telah menjerumuskan Nabi Adam dan Siti Hawa dari Surga dahulu kala. Syaitan membisikan pikiran jahat kepadanya untuk memakan buah kuldi yang sebelumnya Allah telah melarang Nabi Adam untuk mendekati buah tersebut.

Kita ketahui bersama bahwa perbuatan Syaitan adalah menyesatkan dan menjauhi kita dari seruan Allah Subhanawata'alla. Sebab itu jadikanlah ia (syaitan) itu musuh, mereka bukanlah sifat, mereka adalah makhlukh yang juga diciptakan Allah Tuhan Seru Sekalian Alam.
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (Qs:Al AnAam:112)
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim." (Qs:Al Kahfi: 50)

"Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (Qs:An Naas:1-6)

Syaitan diciptakan Allah Yang Maha Pencipta dari jenis Jin dan Manusia. Mereka Syaitan dari golongan Jin dapat melihat manusia, namun manusia tidak dapat melihat mereka. Mereka Para Syaitan adalah pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman, karena keta'atannya selain kepada Allah dan menjadikan tanding-tandingan bagi Allah.
"Hai anak Adam, Janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Qs:Al A'raaf:27)

"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta." (Qs:Asy Syu'araa':221,222,223)

Semoga Bermanfaat....

Senin, 13 Januari 2014

AIR...


"Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (Qur'an:Az Zukhruf:11)

"Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)." (Qur'an:An Nahl:65)

Air adalah karunia dari Allah untuk manusia dan semesta alam. Air merupakan sumber kehidupan karena Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup dari Air. Tidak akan ada kehidupan jika tidak ada Air, begitulah Allah Tuhan Seru Sekalian Alam menjadikan hukum Air untuk menciptakan segala sesuatu yang hidup.

Air bagi kehidupan manusia sangat bermanfaat begitu juga bagi tumbuh-tumbuhan, binatang ternak dan makhluk hidup lainnya di permukaan bumi ini. Segelas teh atau kopi yang kita minum dengan nikmat merupakan air yang diciptakan Allah. Buah-buahan, daging ikan, daging kerbau dan lainnya yang kita makan juga membutuhkan air dalam proses hidupnya sehingga menjadi makanan yang lezat bagi manusia.

Begitu juga dengan berbagai rezki yang Allah berikan melalui manfaat air. Banyak orang yang dapat memperjual belikan air bersih, sehingga mendapat keuntungan. Banyak orang yang berusaha di pertanian, bersawah, berladang, berkebun dengan bermacam jenis tumbuh-tumbuhan yang juga membutuhkan air. Begitu besar karunia Allah terhadap manusia dan semesta alam. Dan...sudah sepatutnya manusia bersyukur kepada Allah terhadap semua karunia dan kenikmatan yang diberikan Allah dengan cuma-cuma itu.

"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qur'an:An Nuur:45)

"Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam." (Qur'an:Thaahaa:53)

Sesuatu yang hidup diciptakan Allah dari Air. Manusia, bermacam-macam jenis tumbuh-tumbuhan, berbagai jenis binatang yang tidak dapat kita jumlahkan banyaknya diciptakan Allah dari Air. Begitu juga dengan listrik yang mengandung penghantar air, radio dan komunikasi menggunakan telephone juga dihantarkan oleh frekuensi yang mengandung air. Dunia maya seperti facebook dan internetpun membutuhkan air sebagai penghantarnya. Tidak ada yang diciptakan Allah dengan sia-sia.

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari AIR Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Qur'an:Al Anbiyaa:30)

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." (Qur'an:Ibrahim:32)
_ _ _ _ _ _ _

Sering kita tidak menyadari bahwa Air diciptakan oleh Allah dan... sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah. Sering kita melupakan siapa dibalik keagungan penciptaan semesta alam. Sering juga kita menyalah gunakan karunia Allah sehingga dapat merusak kehidupan yang merugikan banyak orang. Sering juga kita mengingkari dan mendustakan ciptaan-Nya yakni ayat-ayat-Nya yang nyata, terbentang dan terkembang yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.

Jika kita menyadarinya.... maka tidak pantas kita mengeluh terhadap air yang diturunkan Allah dari awan yang menyebabkan kita mengurung niat untuk bepergian atau bekerja, tidak pantas kita marah dan kesal dengan air yang dilebihkan bagi negri-negri yang dicurahkan air hujan atau yang sedikit dicurahkan air hujan. Karena Allah-lah yang memiliki haq untuk memberikan karunia tersebut. Jika Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam yang menghalau awan untuk menurunkan hujan ke daerah yang dikehendaki-Nya, kemudian atas dasar apa kita mengeluh, marah, dan mengingkari serta mendustakan-Nya??.

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?" (Qur'an:As Sajdah:27)
_ _ _ _ _ _ _ _

Sifat Air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, bisa jadi memberi mudharat bagi kehidupan manusia dengan terjadinya banjir. Tidak hanya karena air mengalir dari tempat tinggi ke rendah namun juga karena daerah resapan air yang minim , saluran air yang tidak efektif dan banyaknya kerusakan akibat ulah perbuatan sebagian manusia sendiri. Kewajiban manusia untuk mengatasi air yang dicurahkan itu dengan menyalurkannya ke sungai dan laut kemudian memperbanyak daerah resapan air agar air dapat dikelola dengan baik.

Kerusakan yang disebabkan air tidak lain karena perbuatan manusia sendiri. Nafsu, keinginan untuk menguasai dan berbagai kepentingan telah menyebabkan kerusakan, baik di darat dan di laut. Oleh karenanya terjadi banjir, tanah longsor, dan sebagainya yang dapat menelan korban jiwa dan harta benda kemudian menjadi musibah bagi sebagaian orang yang merasakan akibat dari perbuatan yang merusak itu.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Qur'an:Ar Rum:41)

Hendaklah kita bersyukur, sebagai wujud dan bentuk terima kasih dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanawata'alla. Sudah sepatutnya kita bersyukur karena Allah yang memberi seluruh karunia dan kenikmatan dalam kehidupan kita. Bersyukur dengan menyadari sungguh-sungguh bahwa Allah yang telah menciptakan segalanya, Allah juga yang memberikan seluruh karunia yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Serta bertaqwa dan mengabdi hanya kepada Allah dengan menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dalam kehidupan.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (Qur'an:Dzaariyaat:56)

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" (Qur'an:Yassin:33-35)

"Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (Qur'an:Az Zumar:66)