Translate

Kamis, 14 November 2013

Menafkahkan Harta di Jalan Allah


"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(Al Qur'an:Al Baqarah:267)

Saudaraku yang baik hatinya...

Menafkahkan harta di jalan Allah seperti bersedekah, berzakat, berinfaq, memberi, dan sebagainya merupakan perintah Allah terhadap kita untuk saling berbagi dengan sesama. Bahwa rezki yang kita terima hakikatnya rezki pemberian Allah, oleh karenanya Allah juga yang memerintahkan untuk menafkahkan sebagian harta yang baik-baik.

Menafkahkan sebagaian hasil usaha yang baik-baik, bukan menafkahkan hasil usaha yang tidak diridhai Allah. Nafkah yang kita cari untuk menghidupi diri sendiri, keluarga dan mungkin orang lain bisa jadi tercampur dengan yang bathil. Oleh karenanya Allah melarang kita untuk menafkahkan hasil usaha yang tidak baik, hasil usaha yang didapatkan dari menzalimi orang lain, menganiaya orang lain, mencampur adukkan yang haq dan yang bathil, dan hasil usaha yang bersumber dari perbuatan yang merusak. Untuk urusan ini, hanya diri kita sendiri dan Allah yang tahu. 



"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan". (Al Qur'an:Asy Syu'Aara:183)

"Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui."
(Al Qur'an:An Nahl:75)

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:172)

Saudaraku yang baik hatinya...

Menafkahkan harta di jalan Allah tidak lain untuk mencari keridhaan Allah. Bukan untuk lainnya, bukan untuk dipuji, bukan untuk memperlihatkan kekayaan dan kemampuan ekonomi kita, bukan untuk riya, bukan untuk unjuk gigi, semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.

Pahala dari perbuatan kita menafkahkan harta di jalan Allah adalah untuk kita sendiri. Siapa yang menanam, dia yang menuai hasilnya. Siapapun yang melakukan perintah Allah, tentu dia yang menerima ganjaran dari Allah. Allah, Maha Adil dan Maha Bijaksana. 



"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:272)

Saudaraku yang baik hatinya...

Adalah haq Allah untuk melipatgandakan ganjaran bagi orang-orang yang menafkahkan hartanya yang baik-baik dijalan Allah. Sering kita terjebak dalam paradigma bahwa kita bersedekah, berinfak, berzakat untuk mencari dan mengharapkan pahala yang berlipat ganda bukan untuk mencari keridhaan Allah terhadap apa yang kita lakukan sebagai bukti ketaatan kita terhadap Sang Khalik.

Ingatlah... Allah melipat gandakan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Karena Allah lebih mengetahui orang-orang yang yang layak dilipat gandakan amalannya. Apakah ia memberi untuk mengharapkan yang lebih banyak? atau ia memberi untuk tujuan yang lain?, selain mencari keridhaan Allah, atau ia memberi yang buruk-buruk atau memberi dari hasil usaha yang tidak baik. Semuanya kembali kepada Allah sebagai pemberi keputusan yang haq. 



"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." 
 (Al Qur'an:Al Baqarah:272)

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:265)

Saudaraku yang baik hatinya...

Adapun menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan orang yang merima sedekah akan menghilangkan pahala atau ganjaran dari perbuatan baik kita itu. Sering kali kita lupa... bahwa menyebut-nyebut sedekah didepan umum dengan maksud orang lain mengetahui tidak lain adalah untuk bersifat riya semata. Oleh karenanya janganlah kita menyebut-nyebut sedekah, infaq, zakat dan pemberian lainnya, sebesar dan sekecil apapun sedekah kita itu, dan dimanapun kita bersedekah, baik di dalam rumah, didalam mesjid, dan dimanapun....tidak cukupkah,, sedekah itu semata-mata untuk mencari keridhaan Allah kepada diri kita? 



"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:262)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:264)

Saudaraku yang baik hatinya...

Tidak ada larangan untuk bersedekah, berinfaq, berzakat dan menafkahkan harta di jalan Allah dengan terang-terangan dan dengan tersembunyi. Disaat kita memberi kepada orang yang membutuhkan ataupun memasukkan sejumlah uang ke kotak infaq, baik dengan sembunyi dan terang-terangan sehingga diketahui ataupun tidak diketahui oleh orang lain bukan untuk maksud riya dan menyebut-nyebutnya dan menyakiti hati si penerima.

Allah tidak melarang bersedekah dengan terang-terangan ataupun dengan tersembunyi. Allah hanya melarang bersedekah dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti hati si penerima sehingga perbuatan tersebut dapat menimbulkan riya dan fitnah. Memberi secara terang-terangan bukan berarti memberi atau bersedekah dengan mengumumkan kepada orang banyak namun memberi atau bersedekah diketahui oleh orang lain. 



"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:271)

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:274)

Semoga, perbuatan untuk bersedekah, berinfak, berzakat dan menafkahkan harta yang baik-baik di jalan Allah, yang telah dan akan kita lakukan mendapat ganjaran oleh Allah dengan mengaplikasikan petunjuk-Nya sebagai pedoman. Menafkahkan harta di jalan Allah, semata-mata dilakukan untuk mencari keridhaan Allah, sebagai bukti ketaatan dan kepatuhan hamba-Nya terhadap perintah Tuhan Seru Sekalian Alam. 



"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:270)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar