Translate

Selasa, 19 November 2013

Sabar

Saudaraku yang dirahmati allah...

Sabar adalah sebuah kosa kata yang bisa jadi sering kita dengar. Tetapi tahukah kita, bahwa kesabaran seorang hamba Allah merupakan sebuah perintah yang jelas yang tertuang di dalam Al qur'an yang tidak lain adalah perkataan Allah yang harus kita imani dan yakini.

Salah satu yang membuat kita tenang dan jauh dari permasalahan dari berbagai urusan-urusan dunia adalah SABAR. Kata yang sederhana namun penuh hikmah. Dengan senantiasa kita bersabar terhadap segala hal maka akan menjadi amalan sholeh kita jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan atas dasar ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, Yang Maha Pemurah.

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah SABAR dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Qs:Al Baqarah:153)


"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang SABAR, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Qs:Al Ahzab:35)


Setiap diri kita tentu memiliki urusan dan permasalahan yang berbeda. Tetapi Tuhan kita tetap Satu, Ahadun Ahad, Yang Memiliki Langit dan Bumi. Jika setiap diri, menyadari penghambaannya dengan melakukan berbagai pekerjaan yang baik dan untuk mencari ridho Allah, maka kesabaran adalah sebuah hal yang tidak bisa dielakkan.

Bersabarlah...dalam keadaan kelapangan maupun kesempitan dalam kehidupan. Allah-lah yang memberi rezki dan karunia itu. Bekerjalah untuk mencari ridho Allah dengan melakukan sesuatu atas dasar KEPATUHAN, KETAATAN hanya kepada Allah. Agar apa yang kita kerjakan menjadi amalan sholeh yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti.

"kecuali orang-orang yang SABAR (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar." (Qs:Huud:11)


Bayangkan jika kita tidak sabar dalam menjalankan pekerjaan dan urusan-urusan. Tentu akan timbul sakit hati, dendam, iri, fitnah, bahkan hal yang terburuk sekalipun yang dapat merugikan diri kita dan diri orang lain.

Bersabarlah saudaraku.... yang diriku juga tidak luput dari kesalahan dan kelalaian untuk tidak bersabar. Bahwa Syaitan dari golongan jin dan manusia memiliki tugas untuk menyesatkan kita dengan berbagai bisikan jahat yang akan menimbulkan kemudharatan. Maka, tiada kata lain selain bergantung hanya kepada Allah dengan bersabar...

"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang SABAR". (Qs:Al Qashash:80)


Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya

Kadar

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya), dan yang menentukan Kadar (masing-masing) dan menentukan petunjuk."
 (Qs: Al A'laa:1-3)

Setiap orang memiliki kadarnya masing-masing, karena Allah Sang Pencipta telah menentukan kadar makhluknya atas kehendak-Nya.

Setiap manusia tentu berbeda satu sama lainnya. Berbeda dari detik, menit, jam, tanggal, bulan dan tahun kelahirannya. Berbeda keluarga dan orang tuanya, berbeda zaman kehidupannya. 

Secara fisikly atau zahir juga berbeda satu sama lainnya. Ada yang sempurna dan ada yang kurang sempurna, ada yang berkulit putih, coklat, kuning, merah, hitam dan sebagainya....

Apalagi persoalan pekerjaan dan rezki, jodoh, maut tentulah berbeda. Berbagai urusan yang dikerjakan setiap haripun sangat berbeda. Kemudian tempat tinggal, harapan dan cita-cita juga berbeda.

Banyak sekali yang berbeda, namun Tuhan dari segala makhluk itu tetaplah Yang Maha Satu, Allah Subhanawata'alla. Di genggaman-Nya lah alam semesta ini, Dia yang Maha Besar yang Arsy berada diatas air diatas langit ketujuh. Dia yang memberi rezki kepada makhluknya termasuk kepada binatang yang bersembunyi didalam tanah sekalipun.

"Dan Dialah Allah (yang disembah), baik dilangit maupun di bumi, Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. 
(Qs: Al An'aam:3)


Kehidupan dunia memang amat memperdayai kita. namun ingatlah, tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah. Dia, Allah yang Maha Melihat apa yang kita kerjakan dan usahakan. Jika kita diberi harta atau dicukupkan rezki, maka Allah lah yang Maha Pemberi itu. Sebaliknya, jika kita dalam keadaan kesempitan harta dan rezki, maka Allah lah yang mengizinkan itu. Keadaan kita itu tidak lain hanyalah ujian semata. Maka tidak ada kata lain selain bertaqwa kepada-Nya.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, dan kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." 
(Qs: Ali Imran:14)


Diperkirakan manusia yang hidup saja dimuka bumi ini sekarang lebih dari 6 milyar jiwa, yang tersebar diberbagai negara, kota/kabupaten, kampung halaman dan sebagainya...

Tahukah kita..bahwa dari berbagai urusan-urusan manusia, termasuk urusan kita dan termasuk urusan saya yang menulis ini, yang dikerjakan hari demi hari akan naik kepada sisi Allah.

"Dan Dia lah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali. Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat." 
(Qs: Al Hajj:66)


Yang naik ke sisi Allah adalah perbuatan-perbuatan dan amalan-amalan yang baik. Sekecil dan sebesar apapun perbuatan itu akan naik ke sisi Allah dan mendapatkan balasan dari-Nya. Begitu juga sebaliknya, perbuatan dan amalan buruk-pun akan mendapatkan balasannya. Tolok ukur dari perbuatan tersebut adalah Al Qur'an atau Al Furqan, pembeda, pembeda antara yang haq dan yang bathil.
 

"(Luqman berkata): Hai annakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. 
(Qs: Luqman:16)


"Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang kepunyaan Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi Nya dalam kekuasaan (Nya). dan Dia telah menciptakan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." 
(Qs: Al Furqaan:1-2)


Maha Benar Alah dengan segala Firman-Nya.

Semoga Bermanfaat...

Kamis, 14 November 2013

Al Mursalaat:27


An Nuur:64


Menafkahkan Harta di Jalan Allah


"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(Al Qur'an:Al Baqarah:267)

Saudaraku yang baik hatinya...

Menafkahkan harta di jalan Allah seperti bersedekah, berzakat, berinfaq, memberi, dan sebagainya merupakan perintah Allah terhadap kita untuk saling berbagi dengan sesama. Bahwa rezki yang kita terima hakikatnya rezki pemberian Allah, oleh karenanya Allah juga yang memerintahkan untuk menafkahkan sebagian harta yang baik-baik.

Menafkahkan sebagaian hasil usaha yang baik-baik, bukan menafkahkan hasil usaha yang tidak diridhai Allah. Nafkah yang kita cari untuk menghidupi diri sendiri, keluarga dan mungkin orang lain bisa jadi tercampur dengan yang bathil. Oleh karenanya Allah melarang kita untuk menafkahkan hasil usaha yang tidak baik, hasil usaha yang didapatkan dari menzalimi orang lain, menganiaya orang lain, mencampur adukkan yang haq dan yang bathil, dan hasil usaha yang bersumber dari perbuatan yang merusak. Untuk urusan ini, hanya diri kita sendiri dan Allah yang tahu. 



"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan". (Al Qur'an:Asy Syu'Aara:183)

"Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui."
(Al Qur'an:An Nahl:75)

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:172)

Saudaraku yang baik hatinya...

Menafkahkan harta di jalan Allah tidak lain untuk mencari keridhaan Allah. Bukan untuk lainnya, bukan untuk dipuji, bukan untuk memperlihatkan kekayaan dan kemampuan ekonomi kita, bukan untuk riya, bukan untuk unjuk gigi, semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.

Pahala dari perbuatan kita menafkahkan harta di jalan Allah adalah untuk kita sendiri. Siapa yang menanam, dia yang menuai hasilnya. Siapapun yang melakukan perintah Allah, tentu dia yang menerima ganjaran dari Allah. Allah, Maha Adil dan Maha Bijaksana. 



"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:272)

Saudaraku yang baik hatinya...

Adalah haq Allah untuk melipatgandakan ganjaran bagi orang-orang yang menafkahkan hartanya yang baik-baik dijalan Allah. Sering kita terjebak dalam paradigma bahwa kita bersedekah, berinfak, berzakat untuk mencari dan mengharapkan pahala yang berlipat ganda bukan untuk mencari keridhaan Allah terhadap apa yang kita lakukan sebagai bukti ketaatan kita terhadap Sang Khalik.

Ingatlah... Allah melipat gandakan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Karena Allah lebih mengetahui orang-orang yang yang layak dilipat gandakan amalannya. Apakah ia memberi untuk mengharapkan yang lebih banyak? atau ia memberi untuk tujuan yang lain?, selain mencari keridhaan Allah, atau ia memberi yang buruk-buruk atau memberi dari hasil usaha yang tidak baik. Semuanya kembali kepada Allah sebagai pemberi keputusan yang haq. 



"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." 
 (Al Qur'an:Al Baqarah:272)

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:265)

Saudaraku yang baik hatinya...

Adapun menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan orang yang merima sedekah akan menghilangkan pahala atau ganjaran dari perbuatan baik kita itu. Sering kali kita lupa... bahwa menyebut-nyebut sedekah didepan umum dengan maksud orang lain mengetahui tidak lain adalah untuk bersifat riya semata. Oleh karenanya janganlah kita menyebut-nyebut sedekah, infaq, zakat dan pemberian lainnya, sebesar dan sekecil apapun sedekah kita itu, dan dimanapun kita bersedekah, baik di dalam rumah, didalam mesjid, dan dimanapun....tidak cukupkah,, sedekah itu semata-mata untuk mencari keridhaan Allah kepada diri kita? 



"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:262)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:264)

Saudaraku yang baik hatinya...

Tidak ada larangan untuk bersedekah, berinfaq, berzakat dan menafkahkan harta di jalan Allah dengan terang-terangan dan dengan tersembunyi. Disaat kita memberi kepada orang yang membutuhkan ataupun memasukkan sejumlah uang ke kotak infaq, baik dengan sembunyi dan terang-terangan sehingga diketahui ataupun tidak diketahui oleh orang lain bukan untuk maksud riya dan menyebut-nyebutnya dan menyakiti hati si penerima.

Allah tidak melarang bersedekah dengan terang-terangan ataupun dengan tersembunyi. Allah hanya melarang bersedekah dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti hati si penerima sehingga perbuatan tersebut dapat menimbulkan riya dan fitnah. Memberi secara terang-terangan bukan berarti memberi atau bersedekah dengan mengumumkan kepada orang banyak namun memberi atau bersedekah diketahui oleh orang lain. 



"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:271)

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:274)

Semoga, perbuatan untuk bersedekah, berinfak, berzakat dan menafkahkan harta yang baik-baik di jalan Allah, yang telah dan akan kita lakukan mendapat ganjaran oleh Allah dengan mengaplikasikan petunjuk-Nya sebagai pedoman. Menafkahkan harta di jalan Allah, semata-mata dilakukan untuk mencari keridhaan Allah, sebagai bukti ketaatan dan kepatuhan hamba-Nya terhadap perintah Tuhan Seru Sekalian Alam. 



"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya." 
(Al Qur'an:Al Baqarah:270)

Upah Berdakwah ?


"Katakanlah "aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan". (Qs: Shaad:86)

Saudaraku...

Akhir-akhir ini tengah trend bagi kehidupan beragama kita bahwa berdakwah atau mengingatkan orang untuk kembali kepada Allah dengan meminta dan ataupun menerima upah. Fenomena ini sebenarnya telah lama berjalan dan fenomena ini sangat bertentangan dengan perintah Allah di dalam Al Qur'an tentang berdakwah atau saling mengingatkan.

"Wahai kaumku! aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?". (Qs:Huud:51)

"Katakanlah "aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya". 
(Qs:Al Furqan:57)

"Jika kamu berpaling (dari peringatanku) aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)". 

(Qs: Yunus: 72)

Persoalannya bagi kita,, apakah semua orang yang menyeru kepada Allah adalah baik? bagaimana jika cara yang ditempuh tidak sesuai dengan tuntunan Al Qur'an yang notabene adalah tuntunan Allah Subhanawata'alla?.

Dalam Al Qur'an dan Sunnah, tidak pernah kita temukan tentang upah didalam melaksanakan dakwah dan mengajak orang untuk kembali ke jalan Allah. Para Nabi dan Rasul Allah tidak menerima upah apapun dalam berdakwah dan mengingatkan umat kembali kepada Allah. Yang ada hanyalah urusan berdakwah terpisah dengan urusan ekonomi yang bersangkutan. Seberapapun besarnya yang diberikan atau yang diminta untuk berdakwah, atau sekecil apapun yang diterima dalam berdakwah, tiada artinya disisi Allah karena Allah melarang itu.

Jika Allah melarang menerima upah atas jasa kita dalam berdakwah, kemudian atas dasar apa kita berani menerima upah dan memasang tarif dalam berdakwah?. Kemudian kemana kita sebenarnya beriman? kepada nenek moyang yang juga melakukan hal serupa atau kepada Allah?. Jawabanya dapat kita jawab masing-masing dan Allah mengetahui segala isi hati.

"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur'an) tetapi mereka berpaling dari kebanggan itu".
"Atau kamu meminta upah kepada mereka?, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling Baik". (Qs: Al Mu'minun:71-72)

Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam tidak melarang manusia untuk jual beli dan bekerja dalam konteks memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, dan menafkahi keluarga. Namun menjual murah ayat Al Qur'an dalam pengertian berapapun yang diminta dan diterima dalam berdakwah dan mengingatkan orang lain kepada Allah tidak berarti apa-apa disisi Allah, yang berarti disisi Allah tidak lain adalah amalan yang baik dan soleh dengan mengharapkan kepatuhan dan berserah diri hanya kepada Allah semata.

"Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada disisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". 
(Qs: An Nahl:95)

"Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (yaitu) bagi siapa diantaramu yang mau menempuh jalan yang lurus". (Qs:At Takwiir:27-28)


Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.

Amalan Shaleh


" Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik." 
(QS.53.An Najm : 31)

Saudaraku yang dirahmati Allah......

Hidup adalah pilihan...
Yang harus benarbenar kita sadari dan kita pahami adalah bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah. Apapun yang kita lakukan adalah amalan kita didunia namun hanya kebaikan yang dilakukan semata-mata karena ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah saja yang akan menjadi AMAL SHOLEH.

"Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." 
(QS.3.Ali 'Imran : 57)

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan AMALAN-AMALAN YANG SHALEH, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman." 

(QS.4.An Nisaa' : 57)

"Sesunggunya mereka yang beriman dan BERAMAL SHALEH, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik." (QS.18.Al Kahfi : 30)


" Orang-orang yang beriman dan mengerjakan AMAL SHALEH, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?" (QS.4.An Nisaa' : 122)


Jika kebaikan yang kita lakukan karena orang tua, anak, pujian, kepentingan atau apapun selain Allah maka itu akan menjadi AMALAN YANG SIA-SIA dan tidak bernilai disisi Allah...

"Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka AMALAN yang telah mereka kerjakan."
(QS.6.Al An'aam : 88)

" Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka AMAL perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka." 

(QS.2.Al Baqarah : 167)

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian (AMALAN) itu menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan," 
(QS.8.Al Anfaal : 36)

Saudaraku yang baik....

Sebagai apapun kita dalam kehidupan dunia ini, lakukanlah semua kewajiban kita semata-mata memang karena Allah memerintahkan itu.
Sebagai seorang suami, nafkahilah keluarga dengan baik karena Allah telah perintahkan itu kepada kita, begitu juga sebagai istri, orang tua, anak, sahabat, tetangga, pejabat atau apapun...semua sudah diatur dengan sangat sempurna oleh Allah dalam Al Quran.

Rabu, 13 November 2013

Selamat


Kesuksesan tidak lepas dari kata “selamat”. Sebuah kesuksesan tentunya diiringi dengan ucapan selamat. Kesuksesan yang abadi sesungguhnya adalah kesuksesan yang diberi ucapan “selamat” dari Tuhan Seru Sekalian Alam. Tidak hanya sukses di dunia namun juga sukses di kehidupan yang kekal di akhirat nanti. 

Fenomenanya sekarang kita terjebak dengan defenisi “sukses” yang diada-adakan. Kesuksesan hanya diukur dari banyaknya harta, tahta, wanita dan segala yang menyangkut urusan dunia. Padahal tidak sedikitpun tentang banyaknya harta, tingginya jabatan, banyaknya istri, banyaknya anak, indahnya kebun dan ladang, luasnya pergaulan, tingginya prestasi, dan lain sebagainya dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak, yang dapat menyelamatkan kita kelak tidak lain adalah amalan-amalan saleh yang dilakukan atas kepatuhan, ketaatan hamba-Nya kepada-Nya. Melakukan sesuatu dalam kehidupan dikarenakan perintah Allah, siapapun kita, apapun jabatan kita, dimanapun kita berada. 

Allah Swt berfirman : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs:Al Hadiid:20)

Adalah Allah yang menyempitkan rezki bagi seseorang dan melapangkan rezki bagi seseorang, kemudian atas dasar apa kita berlaku sombong terhadap apa yang kita punya, apa yang kita raih dan dapatkan. Tidaklah kesuksesan dilihat dari banyaknya harta yang telah dikumpulkan karena Allah jualah yang melapangkan rezki dan menyempitkannya, dan kepada-Nya lah sepantasnya bersyukur. Tiadalah kekayaan dan kemiskinan, kelapangan harta dan kesempitan harta, kesenangan dan kesengsaraan melainkan ujian dari-Nya, agar hamba-hamba-Nya bersyukur dan bertaqwa kepada Tuhan yang memiliki apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi ini. 

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” 
(Qs:Ar Rum:37)

“Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba- hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs: Al Ankabuut:62)

“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs:Asy Syuura:12)

“Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Qs:Asy Syuura:4)

Orang-orang yang sukses itu ialah orang-orang yang beriman dan bertaqwa, kemudian diucapkan kepadanya selamat ketika hendak memasuki surga. Bahkan untuk orang-orang kafir dan ingkar terhadap Allah Swt, tidak sedikitpun ucapan selamat dari Tuhan Pemilik Surga dan Neraka kepada penghuni neraka.

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (Qs:Al Furqan:75)

(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): "Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.” (Qs:Yasiin:58-59)

(Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)". (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka". (Qs:Shaad:59)

Pengikut-pengikut mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap". (Qs:Shaad:60)

Bagi orang-orang yang sukses melewati kehidupan dunia ini dengan berbagai ujian dari Allah, dikatakan kepada mereka salam sebagai ucapan selamat dan sejahtera. Kesuksesan yang hakiki dari Allah Tuhan Seru Sekalian Alam. 

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (Qs:Al Ahzab:44)

“Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam syurga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di syurga itu tiap-tiap pagi dan petang.” (Qs:Maryam:62)

Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya. * * *

Seseorang tidak memikul dosa orang lain


Seseorang yang berbuat kejahatan atau mengingkari ayat-ayat Allah, tidak akan menanggung dosa orang lain selain dosanya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang bertaqwa atau menjalankan perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya tidak akan dapat memberi pahala kepada orang lain selain pahala untuk dirinya sendiri. 
Begitulah ketetapan yang Allah Swt buat dan dapat kita ketahui bersama di dalam Al Qur’an. Sering kita terjebak didalam berbagai pendapat yang kita ketahui dari orang lain dan dari berbagai media bahwa seseorang dapat memikul atau bertanggung jawab terhadap dosa orang lain. Ataupun seseorang dapat memberi pahalanya kepada orang lain dan sebagainya. Kabar tersebut sudah dipastikan tidak benar karena Allah Tuhan Seru Sekalian Alam telah memberikan ketetapan yang jelas terang benderang di dalam Al Qur’an:

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).” (Qs:Faathir:18)

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”
(Qs:Al Israa’:7)

“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al Qhashas84)


            Sesungguhnya, ketetapan Allah yang dapat kita ketahui dalam Al Qur’an adalah berlaku untuk semua orang. Apakah sebagai seorang suami, sebagai seorang istri, anak, orang tua, karib kerabat dan sebagainya. Tidaklah mungkin seseorang memikul dosa orang lain baik didalam rumah tangga sendiri. Kabar pertakut bahwa seseorang dapat memikul atau menanggung dosa orang lain seperti itu hanya akan menjauhkan kita dari keyakinan atas firman Allah Swt. Keimanan terhadap ayat-ayat Allah didalam Al Qur’an adalah sebuah kewajiban bagi orang-orang beriman. 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” 
(Qs:Al Jaatsiyah:15)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (Qs:Fushshilat:46)

“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Qs:An Nisaa’:111)

                Semoga kita mampu membentengi diri kita dengan Al Qur’an, dengan menjadikannya sebagai petunjuk ke jalan yang lurus, pedoman didalam kehidupan serta menjadi cayaha yang mampu mengeluarkan seseorang dari kegelapan, kemudian menjadi pelajaran,,peringatan dan kabar gembira. * * *